Saling berbagi lewat sebuah tulisan yang mungkin bisa membuat mudah hidup orang lain adalah sesuatu yang membuat seorang Faa merasa bahagia ^_^

Jumat, 25 Mei 2012

perkembangan Mamanda



2.2  Perkembangan mamanda
A.    Mamanda di Tengah Perkembangan Seni Modern dan Pasar
John Naisbitt dan Patricia Aburdere dalam bukunya Megatrend 2000 mengungkapkan bahwa pada abad baru ini seni semakin memasyarakat. Masa ini dikatakan era dasawarsa renaisans seni. Semakin populernya seni dalam kehidupan manusia, maka membuka peluang munculnya wawasan baru tentang kebudayaan, yang pada gilirannya juga berpengaruh pada etos kerja seniman.
Kesenian mestilah lepas dari dampak-dampak perkembangan zaman, dengan tetap meletakkannya pada poros peradaban masyarakat pendukungnya. Tradisi agama dan seni merupakan pokok peradaban yang memiliki komotmen jelas untuk menskenariokan rekadaya mental dan unsur-unsur spiritual manusia dalam menyikapi segala bentuk perkembangan zaman. Ada gerakan yang mesti dapat dikembangkan untuk mengatasi keterpurukan yang ditimbulkan oleh globalisasi dan pasar bebas.
Tantangan haruslah disikapi sebagai momentum peradaban untuk bisa lebih kreatif dan mampu keluar dari kondisi equiliberium. Dalam konsisi demikian --setidaknya di akhir abad ke 20 ini- - mamanda sebagai kesenian rakyat Banjar di Kalimantan Selatan telah menunjukkan visi-visi seperti itu, meskipun belum bisa dikatakan antisipasinya berjalan terencana, terarah, dan terpadu.
Secara jujur, mamanda telah lama melakukan go publik jika dibanding dengan khazanah seni teater – baik tradisional maupun modern – yang juga berkembang diu Kalimantan Selatan. Mungkin hanya mamanda di antara khazanah teater Kalsel yang sudah melakukan lawatan ke berbagai daerah di nusantara, bahkan ke luar negeri tanpa menghilangkan ciri peradaban yang dibawanya. Mamanda sebagai produk kebudayaan lokal di Kalimantan Selatan, yang juga mata rantai peradaban melayu di nusantara memiliki peluang sebagai model sumbu penggerak nilai-nilai yang masih relevan dalam mempertahankan budaya melayu nusantara. Meskipun mamanda mengikuti arus komoditi pasar, tetapi ia tetap mampu bertahan dalam koridor seni rakyat.
Mamanda diyakini tetap mampu berinteraksi dengan zaman modern. Multifungsi yang dimiliki mamanda tetap akan menjadi bagian dari proses penyulingan pemahaman tentang peradaban. Mamanda masih tetap menemukan fungsinya sebagai sarana penghibur masyarakat modern.

B.     Teater Tradisi Mamanda dari masa ke masa
Kalimantan Selatan adalah kondisi sosiobudaya yang memiliki potensi berkembangnya dunia kesenian yang cukup besar. Namun, perkembangan yang terjadi tidak sempat menciptakan akar budaya dalam prinsip-prinsip kesenian, sehingga akar sebuah cabang seni pun tidak terasa dapat memendam di kalangan masyarakat pendukungnya. Kondisi ini diduga disebabkan oleh tipikal budaya melayu Banjar yang bersifat terbuka dengan bentuk-bentuk budaya luar yang bersinggungan, akibatnya bentuk-bentuk yang sudah ada pun sering terpengaruh oleh bentuk-bentuk lain.
Jika diamati bentuk-bentuk teater yang pernah ada atau yang sedang berkembang di Kalimantan Selatan seperti wayang gong, wayang orang, bagongan, japin bakisah, dan lain-lain ini menunjukkan animo kreativitas terhadap teater itu pun cukup kuat. Selain sebagai ungkapan ekspresi seni, tentu saja aktivitas berteater disini haruslah diakui sebagai medium pengungkapan visi-visi kehidupan budaya yang bermuatan nasional atau lokal.
Kesejarahan masa lalu di daerah ini tidak bisa dilupakan dari bingkai tradisi berkesenian yang cukup kuat dan mapan dengan akar budaya melayu. Kreativitas masyarakat seni masa lalu dapat memberi arti positif dalam menata monumen kultural para sepuh kebudayaan Banjar masa lalu.
Konon, tradisi berteater dalam wujud kreativitas seni di daerah ini sudah muncul sejak abad kesebelas sampai sekarang dengan kondis jatu bangun. Perkembangan teknologi komunikasi juga ikut berpengaruh terhadap jatuh bangunnya seni tradisi ini. Keadaaan ini melahirkan dikotomi tingat apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah. Pertama, seni daerah bisa hidup bila tidak mendapatkan serangan teknologi hiburan yang menyajikan bentuk-bentuk kesenian modern. Kedua, seni daerah akan ditinggalkan ketika sarana-sarana hiburan lain mampu menjadi tambatan emosi masyarakat.
Sadar akan kondisi psikologi massa demikian, ada pula kelompok pelaku seni yang mulai mencoba merebut kembali emosi masyarakat yang sedang jenuh dengan bentuk-bentuk kesenian modern ini dengan memasukkan garapan-garapan hiburan. Maksudnya, mamanda dalam bentuk seni tradisional ini dikembangkan  dengan garapan baru yang lebih  mampu merebut keterhiburan, ketertarikan, dan keterpesonaan. Hanya saja bagi kelompok generasi muda yang memiliki kebiasaan menggarap teater modern yang tidak memiliki paham tradisi merasakan amat kesulitan mengikuti pola-pola teater mamanda ini. Kesulitan yang dirasakan adalah pelaku mamanda harus dapat menyanyikan lagu raja, tari ladon, serta menabuh musik mamanda.
Kondisi masyarakat seperti di Banjarmasin nampaknya lebih menguntungkan. Pergelaran mamanda hampir dapat disaksikan pada setiap bulan, setidak-tidaknya pada tayangan TVRI SPK Banjarmasin. Pergelaran mamanda lebih banyak diminta untuk memeriahkan pesta perkawinan. Karena itu grup mamanda sering kebanjiran order bermain.
Berbeda dengan kondisi yang ada di banjarmasin, di daerah seperti Martapura, Rantau, Kandangan, dan Barabai grup-grup mamanda di daerah-daerah tersebut dapat eksis kecuali ada pihak-pihak meminta agar mamanda dimainkan. Sekarang kondisi grup-grup mamanda yang ada di daerah – selain di Banjarmasin – sangat jarang melakukan pertunjukan. Hal ini karena masyarakat sudah mendapatkan bentuk hiburan baru seperti karaoke dan VCD yang sudah mengejala di kalangan masyarakat desa.
Lakon mamanda terasakan sekali berbeda dari masa ke masa. Kondisi ini leih banyak disebabkan oleh kondisi zaman yang selalu berubah. Namun, alhamdulillah, menurut Drs. HM. Thaha, sekarang mamanda sudah menjadi tambatan emosi sebagian masyarakat Banjar di perantauan seperti jawa, sumatra bahkan perantau Banjar yang ada di Malaysia dan Brunei Darussalam.

C.    Dari Realitas Tradisi ke Kesenian Populer
Ada tiga hal yang bisa dirujuk apabila teater Mamanda di Kalimantan Selatan ingin dilihat sebagai seni tradisi, yaitu :
a.      Mamanda merupakan bagian dari kesenian rakyat yang menyajikan sistem sosial dan sistem budaya etnik Banjar.
b.      Mamanda memiliki struktur tetap dari masa ke masa sebagai inspirasi cipta, karsa, dan rasa kesenian rakyat.
c.       Mamanda menghadirkan simbol-simbol yang berisi jagat makna dalam menata titik peradaban masyarakat etnik pendukungnya.
Ketiga material ini merupakan tonggak yang senantiasa memiliki tingkat kehadiran substansi tradisi untuk memperkuat posisi masyarakat dalam pengejawatahann jati diri.
Kuatnya budaya melayu dalam memberi warna terhadap lakon mamanda dapat dilihat dari busana, properti, dan bahasa Melayu Banjar yang digunakan. Teater Mamanda mengambil inspirasi cerita dari kisah seribu satu malam yang selalu diramu dan dibumbui dengan unsur-unsur budaya lokal dan luar seperti politik, pembangunan, ekonomi, dan sejarah.
Seiring dengan tuntutan publik yang telah meluas, mamanda juga tidak bisa mengelakkan diri dari desakan budaya masa. Sadar atau tidak, mamanda mengubah citranya dari tradisi menjadi seni tradisional populer. Dari seni yang hanya berakses di masyarakat desa menjadi seniu yang memasuki lingkungan peradaban baru, yaitu masuk dalam wilayah budaya pop. Perubahan ini hanyalah realisasi titik singgung yang sering dikhawatirkan orang tentang menyeruaknya budaya masa yang dapat menghilangkan aura seni. Bagian ini tidak perlu menjadi kekhawatiran asalkan mamanda tetap memelihara unsur-unsur struktur pentas yang elite berkenaan dengan citra dirinya sebagai kesenian etnik.

D.    Jatuh Bangun teater Mamanda
Kesenian rakyat hanya banyak mendapat sanjungan ke sanjungan atas kebolehannya dalam membawa aspek-aspek nostalgia masa lalu seperti balamut, madihin, dundam, mamanda namun sisi lain kehidupan para pelakonnya hampir rat-rata morat-marit. Belum terlalu imbang perhatian para pengayom untuk menghidupi bentuk kesenian rakyat jika dibandingkan dengan bidang lain.
Ada upaya untuk mempopulerkan kesenian mamanda di layar kaca, namun banyaknya bagian yang di-cut menyebabkan teater mamanda ini kehilangan esensinya yang khas. Warna lokalnya kelihatn amat tipis. Demikian juga ciri lawakannya menjadi kaku. Ada beberapa kesulitan yang diakui oleh pihak televisi, ketika ingin menayangkan mamanda dalam struktur yang komplit, yaitu struktur pergelaran yang terlampau memakan waktu.
Keinginan untuk melakukan tour pergelaran mamanda keliling pulau atau sekedar di beberapa kota besar di Indonesia, rencana ini juga sangat terbatas.
Ada pula fenomena yang menarik, teater mamanda dijadikan sebagai salah satu materi muatan lokal. Mamanda disadari salah satu kesenian Banjar yang layak untuk diketahui dan dihayati oleh peserta didik. Namun sebagian besar guru yang akan mengajarkan muatan lokal mamanda merasa bingung, sebab mereka pada umumnya juga jarang menyaksikan pergelaran mamanda. Kerumitan ini berkaitna dengan kondisi perhatrian terhadap seni ini yang memang juga pasang surut.
Di penghujung periode tahun 90-an sampai sekarang teater Banjarmasin mulai kelihatan bangkit. Jika dibandingkan dengan grup-grup seni pertunjukan lain seperti madihin john tralala atau grup lawak lokal lain yang tampil secara insidentil, maka mamanda tidak lagi bisa dianggap enteng. Teater Banjarmasin sudah mulai bangun menjalani titian suksesnya.

E.     Mamanda dan Konteks Sosio-Budaya
Semula teater mamanda hanya dimiliki oleh masyarakat Periuk dan Tubau di Kabupaten Tapin, Rantau. Namun dari perkembangan selanjutnya, teater tradisi ini mampu menjadi maskot seni pertunjukan rakyat di seluruh wilayah dan pelosok Kalimantan Selatan, bahkan, kesenian ini mampu berkembang ke wilayah Kalimantan Timur, Samarinda. Perkembangan ini terjadi karena diyakini mamanda telah dibawa oleh masyarakat Banjar yang ikut migrasi ke daerah-daerah tersebut.
Bahasa Banjar yang dipakai dalam pergelaran mamanda adalah bahasa kebudayaan yang tentu saja banyak menolong masyarakat untuk dapat menyerap dan memahami unsur-unsur amanat, problematik, dan konflik-konflik cerita serta humor-humor. Rekonstruksi alur yang mudah dipahami semakin memberikan kemudahan kepada masyarakat awam untuk dapat memahami ide-ide cerita yang dibawakan.
Mamanda selalu menyajikan ending kisahan yang memenangkan tokoh-tokoh heroik dan mengalahkan kelompok-kelompok antagonis. Mamanda juga selalu dapat memberikan keterhiburan penonton. Satu hal yang barangkali mamanda mudah tersosialisasikan ke hadapan penonton adalah tokoh-tokoh protagonis dan antagonis tidak memihak kepada peran-peran tertentu saja.
Kisah-kisah yang bersifat carangan atau yang disesuaikan dengan kondisi sehari-hari membuktikan bahwa kisah-kisah mamanda dapat memberikan rangsangan agar penonton masuk dan hanyut dalam rekadaya cerita masa kini.
Untuk memenuhi hajat menghibur penonton yang lebih luas dan beragam, akhirnya mamanda tidak lagi berpikir untuk kepentingan menyetir budaya sendiri ke tengah publik yang bervariasi, tetapi mamanda memiliki fungsi lain yaitu bersifat menghibur. Ini berarti pula mamanda harus mengemas unsur-unsur keterhiburan tersebut dengan menambah kualitas musik, rias dan pemain, tetarian serta kisah-kisah yang unik serta menarik.

F.     Mamanda dan Perkembangan Kultur
Kehadiran mamanda betul-betul telah mengisi bagian yang kosong dari sisi emosi penonton yang selama ini merasa tidak mempunyai pilihan dalam menanti hiburan yang bersifat lawakan. Dari sisi lain, ternyata lawakan-lawakan yang disajikan mamanda tidak terasa memberi ciri bagi perolehan kultur masyarakat Banjar.
Aspek humor yang diangkat dari wadaan ( umpatan) juga memerlukan pemeran-pemeran yang digojlok pada saat permainan. Unsur humor wadaan ini juga memberikan efek humor pada penonton. Yang sering menjadi materi wadaan adalah raut muka, pakaian, suara, ataupun predikat tubuh seperti tinggi, kurus, rendah, gemuk, dan lain-lain. Ciri-ciri ini merupakan subkultur dari kebiasaan masyarakat yang senantiasa menggunjingkan predikat tubuh manusia sebagai bagian dari materi lawakan.
Mamanda ikut membawa kultur demokratis ke dalam cerita-cerita yang dimainkan. Problematika sosial masyarakat yang dimainkan dalam kisah-kisah mamanda. Bagaimana pun mamanda haruslah dipahami sebagai idealisasi praktis sosial dan komunikasi massa yang berfungsi sebagai unsur penata aspek pergaulan masyarakat. Mereka yang menyaksikan mamanda akan mendapatkan pengetahuan praktis bahwa yang salah akan mendapatkan ganjaran dan mereka yang jujur, benar, sabar, pasti akan mendapatkan kebahagiaan.

G.    Mamanda dan Terpaan Budaya Massa
Apa yang dilakukan oleh para pelakon mamanda dewasa ini sebetulnya sadar atau tidak telah melakukan peniruan ddalam kebiasaan yang dilakukan dalam seni pop. Sejak awal tahun 1990-an, mamanda telah muncul dengan warna lain, yakni memepertimbangkan ilmu tontonan. Di sana-sini terjadi kemasan. Semua telah mengalami modifikasi dengan menghubungkan dengan ilmu tontonan.




DAFTAR PUSTAKA
Jarkasi. 2002. Mamanda Seni Pertunjukkan Banjar. Banjarmasin: PT. Grafika Wangi Kalimantan

Asal usul mamanda ^_^


Asal Usul Teater Tradisional Mamanda
A. Pengertian Mamanda
            Teater adalah susuna bentuk “seni” yang menggunakan lakon sebagai wujud ekspresinya. Dalam kazanah seni tradisional di Indonesia diketahui, bentuk teater tradisi merupakan kombinasi dari bentuk seni seperti tari, musik tetabuhan, lagu (nyanyian), dan lakon. Bentuk-bentuk teater seperti ini banyak ditemui di berbagai wilayah Indonesia; mahyong (Pontianak), randai (Sumatra Barat), mendu (Riau), komedi bangsawan (Sumatra Barat), ketoprak (Jawa), serimulat (Jawa), lenong (Betawi),  mamanda (Kal Sel),  peta puang  (Sulawesi Selatan),  dan lain-lain.
            Istilah mamanda pada teater mamanda di Kalimantan Selatan ditengarai berasal dari kata paman. Kata ini merupakan kata sapaan dalam sistem kekerabatan masyarakat Banjar, yang merujuk pada pengertian saudara laki-laki dari ayah atau ibu. Sapaan ini berlaku juga untuk orang yang dianggap sesuai dengan atau sebaya dengan ayah atau orang tua. Kata ini direkatkan dengan morfem nda sebagai sebuah sugesti kekerabatan atau keakraban dengan orang yang disapa dengan sapaan ini.
Dari proses itu terbentuklah kata pamanda, mamanda, ayahnda yang mengisyaratkan keakraban dengan kata sapaan dasar yang dirujuknya. Pamanda menjadi sapaan khas yang biasanya dipergunakan oleh Sultan ketika berdialog dengan Mangkubumi atau kepala Wajir. Wajir dan Mangkubumi adalah bagian pimpinan kerajaan yang selalu hadir pada setiap sidang kerajaan. Sistem pemerintahan yang senantiasa menjadi idealisasi dalam gambaran cerita mamanda, wajir adalah orang yang dituakan atau yang difungsikan sebagai penasihat raja atau sultan di suatu kerajaan.
Istilah mamanda menjadi lebih populer diucapkan karena kata ini tidak terikat dengan keterangan atau pertanyaan lain.
Mamanda adalah sebuah wujud komunikasi antarmanusia, manusia dengan alam dan lingkungan. Mamanda tidak sekedar kesenian yang dipelgelarkan, tetapi mamanda menggambarkan sikap dan prilaku orang dalam wujud alur kehidupan komplit. Mamanda adalah miniatur jiwa dan prilaku manusia dengan fungsi dan kedudukannya. Mamanda lebih rekat disebut teater, sebab kontekstualitasnya menyangkut komunikasi antar tokoh dalam misi-misi kehidupan masa lalu, masa kini maupun masa datang.
B. Sejarah Mamanda
            Asal muasal Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897. Dulunya di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk.
            Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh budaya massa pada permulaan sampai pertengahan abad 19, Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka (1897 M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar. kesenian damoeloek ini pun sedikit demi sedikit merubah gaya dan garapannya. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama "Mamanda".
            Sebagai kota yang memiliki bandar, Banjarmasin lebih memungkinkan menjadi sentral pertukaran budaya, sehingga mamanda juga sudah mulai bergeser dari bentuk aslinya menjadi bentuk yang dikenal tradisional populer. Mamanda yang berkembang di Banjarmasin nampaknya lebih mengutamakan selera pasar.
            Ini dibuktikan dengan masuknya pameran-pameran wanita, rias, dan busana pelakon yang sudah mulai glamor, ditambah pengembangan posisi humor lebih banyak dibanding yang lain pada setiap gelar-gelar mamanda. Bahkan, kegiatan mamanda yang biasanya diselenggarakan dalam durasi empat sampai enam jam sudah bisa dikemas menjadi dua sampai tiga jam. Dalam perkemabnagan terakhir, malah ada mamanda yang disajikan dalam durasi 30 menit.
            Sumber cerita mamanda yang dikembangkan di Banjarmasin tidak harus lagi mengikuti pakem cerita syair dan hikayat, sesekali pelakon sudah menyusun (carangan) cerita sendiri sesuai keperluan. Kemampuan menyusun cerita dengan menyelenggarakan tema-tema cerita dengan psiko-sosial masyarakat pasar ini membuat mamanda semakin disenangi.
C. Sumber cerita Mamanda
            Kesenian pada umumnya mempunyai sifat berkembang dan tidak bertahan dalam gaya dan garapan awal. Hal ini karen aaktivitas berkesenian adalah kreasi dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan wawasan estetika penyelenggaraan itu sendiri. Teater tradisional mamanda dipandang sebagai seni rakyat yang masih mampu bertahan dalam wujudnya semula, yakni istana dan melayu. Meskipun amat terasa perkembangan budaya modern cukup menggejala dalam dua dasa warsa terakhir, tetapi hal ini tidak mempengaruhi perkembangan garapan mamanda.
            Berdasarkan beberapa kategori inspirasi cerita yang dimanfaatkan dalam pagelaran mamanda, sumber cerita dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.        Sumber cerita yang diambil dari Hikayat, Syair, dan kisah 1001 malam.
2.        Sumber cerita yang diambil dari buku-buku roman.
3.        Sumber cerita yang diambil dari buku-buku sejarah
4.        Sumber cerita yang diambil dari cerita rakyat.
5.        Sumber cerita yang diambil dari inspirasi problematik masyarakat kemudian dituliskan dalam skenario cerita (carangan).
D. Ciri Khas Mamanda
a)        Bahasa
Kedudukan dan fungsi bahasa Banjar sebagai identitas daerah dan medium pengungkapan pergaulan masyarakat, berlaku pula untuk pengungkapan pergaulan masyarakat, berlaku pula untuk pengungkapan kesenian daerah seperti teater tradisional mamanda. Umumnya bahasa yang dipergunakan dalam teater mamanda adalah bahasa Melayu Banjar. Medium bahasa Banjar ini setidak-tidaknya telah mampu membawa nilai rasa sistem sosial dan sistem budaya masyarakat Banjar sebagai pendukung teater mamanda. Dengan penggunaan bahasa Melayu Banjar ini, pelakon mamanda lebih mudah memahami dan mengungkapkan humor dan unsur-unsur budaya dalam kisahan mamanda yang dibawakan.
Seiring dengan perkembangan zaman, pelakon mamanda juga turut menyadari bahwa kondisi penonton mamanda tidak hanya terdiri orang-orang penutur bahasa Banjar, tetapi masih banyak terdapat penuturan bahasa lain seperti Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Batak, Minang, dan sebagainya, yang sebelumnya masih menggunakan bahasa ibu mereka masing-masing. Keragaman penonton ini menyadarkan para pelakon mamanda untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam logat Banjar atau menggunakan bahasa Banjar dengan campuran bahasa Indonesia.

b)        Simbolisasi
Mamanda sebagai sebuah bentuk kesenian rakyat tidak hanya menyajikan ekspresi yang bersifat laudens (permainan), tetapi juga menghantarkan simbol-simbol kehidupan manusia dalam simulasi makhluk yang berbudaya. Dalam permainan mamanda telah direkontruksi rasa dan idealisme yang berisi wawasan batin dan wawasan perilaku orang perorang, baik sebagai rakyat biasa maupun sebagai kelompok penguasa.
Simbol-simbol yang tersaji dalam mamanda memberi rangsangan terhadap pengalaman imajinatif terhadap kisah-kisah yang dibawakan. Disinilah mamanda lebih sesuai disebut sebagai seni tradisi, sebab beberapa simbolnya selalu dikaitkan dengan komunikasi budaya.
Simbolisasi lain, yang menyaran pada rekadaya kemanusiaan adalah hadirnya unsur-unsur properti seperti meja, tongkat pendek, lawangan basar (pintu gerbang) yang menyaran pada aspek pemerintahan dan kekuasaan.
Rekadaya normatif simbol-simbol mamanda tersebut telah membangun pengalaman konkrit yang bersifat ideal dan metafisik.
Simbol-simbol lain yang juga bisa saja hadir dalam kisah-kisah mamanda tergantung pada keperluan cerita.
Simbol dalam teater tradisional mamanda nampak bersifat multiinterpretabel. Setiap fungsi simbol tersebut memiliki substansi penalaran sendiri yang bersifat etika dan moral, bahkan ideologis.



c)        Humor
Secara hirarki munculnya humor dalam sistem budaya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan adalah dari peristiwa bacupatian (main tebak-tebakan) dalam bentuk bahasa verbal. Dari peristiwa ini memunculkan permainan lain yaitu mahalabio. Peristiwa ini memunculkan lagi kebiasaan menyampaikan cerita-cerita lucu yang disebut balucuan. Balucuan adalah bercerita atau bertingkah laku lucu sehingga menimbulkan rasa terhibur dan tertawa. Semua peristiwa ini dapat dikatagorikan humor.
Ideasi teater mamanda melakukan perubahan dengan mencoba menggarap hal-hal ya berisi humor, termasuk upaya memasukkan lagu-lagu dangdut di sela-sela pergelaran mamanda. Modus seperti ini ternyata cukup efektif untuk menambah kembali emosi penonton terhadap teater tradisional mamanda.
Humor-humor yang biasanya disajikan dalam pagelaran mamanda dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
·           Humor bahasa
·           Humor tngkah laku
·           Humor pergunjingan
·           Humor pornografi

d)       Estetika Mamanda
Teater tradisional mamanda adalah sebuah model interaksi manusia dengan segala kedudukan dan fungsinya serta dikemas dalam justifikasi ekspresi tari, lagu, dan tetabuhan, simbol yang disimbiosekan dengan nilai kearifan lokal (Kultur Banjar).
Estetika lain dari gambaran teater tradisional mamanda adalah struktur yang bergerak mengikuti alur cerita yang bermula dari ladon, sidang kerajaan, jalan cerita, dan babujukan (antiklimaks).
Pola estetika mamanda seperti ini tentu berbeda dengan bentuk-bentuk dan estetika teater modern yang sering menyajikan sesuatu yang absurd, illogical. Hal ini karena teater moderen hadir dan dihubungkan dengan tingkat berpikir audiens penonton yang lebih bebas sesuai dengan tingkat pemahaman mereka terhadap problematik kehidupan zaman moderen.

E. Mamanda : sebuah Model Interaksi Sosial
     Mamanda disadari lahir dari kebutuhan emosi kolektif masyarakat Banjar masa lalu. Teater tradisional ini dapat bertahan sampai sekarang merupakan bukti bahwa kesenian ini mendapat perhatian dan partisipasi aktif masyarakat. Mamanda menjadi salah satu tambatan hati masyarakat Banjar yang dikenal sebagai bagian dari rumpun Melayu. Ada kesamaan emosi antara nuansa budaya Banjar yang direkadaya dalam teater mamanda dengan budaya Melayu Banjar di Kalimantan Selatan.
     Peran mamanda dalam sepak terjangnya yang ditata sedemikian rupa, sesungguhnya merupakan sebuah model interaksi dengan kesenian lain, yang secara analog juga merupakan model interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.

F. Mamanda: di Belantika Teater Kalimantan Selatan
     Mamanda mestilah dibagun dari titik perjuangan yang memang sulit. Tidak semua teater tradisi yang dimiliki oleh masyarakat lain di nusantara bisa lebih dikenal di Indonesia. Hal ini tergantung pada jam terbang teater tesebut untuk bisa dikenal di tengah masyarakat umum. Ini termasuk pula kemampuan publikasi siaran televisi dan kesediaan mereka untuk menampilkan teater itu kepada penonton dengan jangkauan yang lebih luas.
     Perjalanan teater tradisi mamanda yang mampu melampaui popularitas teater moderen di Kalimantan Selatan adalah sebuah perjuangan meraih kebebesan dari bentuk-bentuk statis yang mengurung dirinya sendiri. Sekiranya teater mamanda tidak melakukan retropeksi pada masa-masa lalu.
     Teater di Kalimantan Selatan nampaknya belum bisa membebaskan ketergantungannya dengan Disbudpar atau juga Taman Budaya.
     Dalam hal teknis penyajian, teater mamanda sudah mencoba melepaskan diri dari sikap pengucapan tradisi mengikat. Mereka lebih cepat melakukan perubahan dan adaptasi. Bukan hanya visi pelakon yang berubah sesuai dengan tuntutan zaman berkenaan dengan bentuk dan format teater tradisi mamanda, tetapi juga menyangkut penonton yang mereka hadapi.

     Pengucapan-pengucapan teater tradisional mamanda dalam beberapa konsep pergelaran nampaknya memang lebih bebas dibanding dengan teater moderen di Kalimantan Selatan.
     Kredibilitas lain yang juga mesti dicatat di sini adalah jam terbang yang sudah diperoleh teater ini. Teater mamanda sudah melakukan eksebisi tidak hanya di lingkup daerah tetapi juga tampil di berbagai daerah di Indonesi


DAFTAR PUSTAKA
Jarkasi. 2002. Mamanda Seni Pertunjukkan Banjar. Banjarmasin: PT. Grafika Wangi Kalimantan

Minggu, 13 Mei 2012

anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dalam kehidupan ini



Ø  Kalau anak-anak banyak dikritik dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengutuk

Ø  Kalau anak-anak banyak mengalami permusuhan dalam kehidupannya, mereka akan belajar berseteru

Ø  Kakau anak-anak banyak mengalami ketakutan dalam kehidupannya, mereka akan belajar prihatin.

Ø  Kalau anak-anak banyak dikasihani dalam kehidupannya, mereka akan belajara mengasihi diri sendiri

Ø  Kalau anak-anak banyak dicemooh dalam kehidupannya, mereka akan belajar menjadi pemalu

Ø  Kalau anak-anak banyak mengalami kecemburuan dalam kehidupannya, mereka akan belajar iri hati

Ø  Kalau anak-anak banyak mengalami hal yang memalukan dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa bersalah

Ø  Kalau anak-anak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri

Ø  Kalau ank-anak merasakan toleransi dalam kehidupannya, mereka akan belajar sabar

Ø  Kalau anak-anak banyak dipuji dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghargai

Ø  Kalau anak-anak merasa diterima dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengasihi

Ø  Kalau anak-anak merasa didukung dalam kehidupannya, mereka akan belajar menyukai diri sendiri

Ø  Kalau anak-anak merasa diakui dalam kehidupanya, mereka akan belajar bahwa mempunyai sasaran itu baik

Ø  Kalau anak-anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati

Ø  Kalau ank-anak dibiasakan jujur dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengatakan yang sebenarnya

Ø  Kalau anak-anak merasakan keadilan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bersikap adil

Ø  Kalau anak-anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati

Ø  Kalau anak-anak merasa tentram dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya kepada diri sendiri , maupun orang-orang di sekitarnya.

Ø  Kalau anak-anak merasakan persahabatan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa dunia ini tempat tinggal yang menyenangkan.

Dikutip dari buku “Anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dalam kehidupan ini” ( terjemahan buku “children learn what they live) karya dorothy Law Nolte & Rachel Harris 

semoga bermanfaat ^_^

Sabtu, 12 Mei 2012

Ulang Tahun yang Sesungguhnya


Hari ulang tahun bukanlah menjadi hari kebahagiaan buatku
Hari ulang tahun bukanlah hari dimana aku harus tertawa gembira ria
Hari ulang tahun justru menjadi hari dimana aku harus merenung
Apakah selama 1 tahun terakhir aku sudah berubah?
Apakah aku sudah menjadi lebih dewasa ?
Apakah aku sudah melakukan yang terbaik?
Apakah selama setahun banyak pahala yang ku perbuat daripada dosa yang ku perbuat?
Apakah masih ada hari esok untukku?
Apakah aku sudah siap seandainya ku di panggil Nya?
Apakah aku masih bisa merenung di hari ulang tahun ku tahun depan?

impianku


Salahkah aku, jika aku ingin menjadi lebih baik?

Salahkah aku, jika aku ingn menjadi yang terbaik?

Salahkah aku, jika aku ingin menjadi dia yang aku idolakan?

Salahkah aku. . .?

Q ingin menjadi matahari, yang selalu memberi kehangatan buat makhluk-Nya.
Yang memberikan penerangan bagi orang yang ada di sekitarnya.
Yang selalu memberi, tanpa harus diminta.

Q ingin menjadi sebiji kopi, yang bisa mengharumkan sekitarnya.
Bukan cuma kopi yang wangi,tapi juga membuat disekitarnya wangi.

Q ingin menjadi merpati, yang bebas terbang kemana saja, namun susah untuk di tangkap n di taklukkan (jinak2 merpati gtu. . .he3).

Q ingin menjadi anak, yang selalu berbakti kepada orangtua, n slalu berusaha membahagiakan mereka(amin).

Q ingin menjadi kakak, yang memberikan contoh yang baik buat adik2ku(amin).

Q ingin menjadi teman, yang selalu ada untukmu baik suka maupun duka(amin).

Q ingin menjadi yang terbaik di antara yg terbaik(amin).


tapi ku sadar semua perlu proses.
Tak semudah membalikkan telapak tangan.

Matahari, umurnya ratusan ribu tahun. Sang Pencipta menciptakannya sangat penuh perhitungan untuk alam semesta ni. Untuk kita.

Kopi, pohonnya harus tumbuh beberapa tahun hingga dia bisa menghasilkan bijinya yang bisa dipetik dan kita nikmati.

Merpati, mungkin dia rajin banget melatih indra penglihatnya supaya mahir melihat d sekitarnya. Hehe.

Mohon doanya ya. . .
Semoga impian ini terkabul.^_^.


to be continued.
By: me.

Selasa, 01 Mei 2012

Manfaat Luar Biasa Senyum : )




Jika seseorang marah, cemas, takut, merasa tertekan, otaknya mengeluarkan NOR-adrenalin, hormon yang sangat beracun, diantara racun alami, hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa ular. Racun ini membuat sakit, cepat tua & cepat meninggal.

Jika seseorang menghadapi segala sesuatu secara positif & afirmatif, otak akan mengeluarkan hormon BETA-endorfin. Hormon kebahagiaan ini berkhasiat memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam relasi antar manusia, meningkatkan semangat, daya tahan & kreativitas.

(Dr. Shigero Haruyama)


---
sumber : 

Halaman Motivasi dan Inspirasi Sukses :
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-dan-Inspirasi-Sukses-/145995508791387?sk=wal


Karena itu (buat yang sering cemberut khususnya) belajarlah untuk tersenyum & bersikap positif dari sekarang, itupun kalo mau hidup bahagia, sehat & panjang umur....
Selain itu dengan memperbanyak senyum (daripada cemberut) hidup kita akan lebih baik dan lebih indah, tapi ingat, jangan terlalu sering juga, apalagi mpe senyum-senyum sendiri, ntar dikira orang gila lagi. hohohoho : D.
oya, 1 lagi (yang mungkin belum kita sadari) tersenyum mungkin tidak menyelesaikan masalah, tapi menjadi langkah awal untuk menyelesaikan masalah.... :)